Bermain Schlitteln di Salju Asyik juga

Musim dingin tanpa berguling-guling di salju? Apa enak kalau hanya di rumah saja, tentu tidak dong. Akhir pekan lalu, 6 Februari 2010, seperti biasa bersama keluarga kami menjadikan Mürren sebagai destinasi utama dari misi akhir pekan kali ini. Hari menjelang tengah hari, kami sudah tiba di Lauterbrunnen, kawasan wisata gunung di bagian pegunungan Alpen, Jungfrauregion. Kereta api dengan kecepatan maksimum 30 Km per jam itu memerlukan waktu 20 menit dari Interlaken Ost, kereta api khusus tanjakan di pegunungan dengan gerigi tambahan di tengah rel, itu juga sebabnya kereta api tidak bisa melaju lebih cepat, dan juga tentu itu adalah konsekuensi dari sebuah kebutuhan rasa aman dan nyaman.

Lauterbrunnen

Lauterbrunnen

Setiba di Lauterbrunnen, kami memilih naik Seilbahn (Kereta Kabel) yang setiap 15 menit naik ke Grütschalp, cuma sekitar 7 menit. Jalur ini dulunya adalah jalur kereta api gunung, namun struktur lereng yang tidak stabil sehingga diganti dengan kereta kabel. Jadi sebenarnya jalur ini adalah jalur reguler, makanya tiketnya pun adalah tiket reguler, bukan tiket turis, karena masyarakat yang tinggal di lereng gunung juga banyak. Kereta kabel ini ada yang unik, dimana di bagian bawah gondola, digantung bagasi untuk mengangkut barang masyarakat setempat atau penumpang yang menggunakan jasa transportasi ini. Kemudian sesampai di Grütschalp, sebuah gerbong kereta, gerbong tunggal, sudah menanti, karena memang penumpangnya adalah sebanyak “kiriman” kereta kabel, itu sebabnya cukup satu gerbong saja. Warnanya orange, dan seperti halnya kereta kabel, kereta ini juga dilengkapi dengan bagasi yang ditarik di belakang kereta. Kemudian kereta bergerak menuju Mürren sebagai tujuan akhir, namun berhenti sekali di Winteregg, dan kami tidak langsung menuju Mürren, tapi kami berhenti di Winteregg, karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang lewat, perut sudah mulai keroncongan.

Makan Siang di Winteregg

Selama makan siang, saya perhatikan, 98 persen orang yang makan, memakai sepatu ski, mulai dari anak kecil umur balita, hingga yang sudah berumur, dan hanya kami bertiga yang memakai sepatu biasa, sepatu salju tentunya. Ada sedikit rasa malu, namun seperti biasa dalam hal-hal minoritas seperti ini, cuek adalah senjata yang masih ampuh diterapkan. Dan memang kami pun cuek saja, karena kami mau makan siang koq, sambil menikmati pemandangan lereng pegunungan Alpen yang dihiasi dengan salju, hingga ke daun-daun pohon yang tinggi, tertutupi salju, indah sekali. Memang kawasan ini sering digunakan orang untuk bermain ski, karena kami belum bisa main ski, ya nonton orang main ski juga boleh dong.

Mürren

Mürren

 

Setelah menu makan siang kami selesaikan dengan baik, berupa menu sosis (Wurst), roti, pasta, sup, ditambah minuman ringan, seperti ice tea, cola dan air mineral, kami pun bergegas menuju Mürren, setelah istirahat sejenak, sembari Gerald bermain sebentar di tempat main ank-anak yang disediakan di samping restoran.

Kereta api yang hanya satu gerbong itu

Setelah tiba di Mürren kami langsung menyewa 2 seluncur salju (bahasa Jermannya, Schlitteln), satu terbuat dari plastik yang punya kemudi, cocok untuk anak-anak, dan satu lagi terbuat dari bahan kayu. Sewanya 14 SFr untuk keduanya, lalu kami berjalan sedikit menanjak menuju tempat bermain seluncur salju yang lebih nyaman.

Pasukan menyatakan siap meluncur

Setelah menemukan tempat yang lebih nyaman, karena butuh kemiringan, kami pun memulai misi utama hari ini, yaitu bermain seluncur salju. Meluncur memang sangat seru, tapi pas naiknya lagi, berjalan sambil menarik Schlitteln ke atas, sangatlah sedikit melelahkan, apalagi Gerald paling malas, namun tetap dia tarik juga, namun setibanya di atas mau meluncur rasa capek itu hilang seketika dan nikmatilah meluncur di atas salju, bisa membuat mulut berteriak huuuuuiiii…., dan harus pintar-pintar mengendalikan Schlitteln ini kalau gak bisa juga jatuh terjerembab ke salju.

Meluncurlah dengan damai...

Kira-kira 2 jam kami menghabiskan waktu di sini, pegal juga, capek namun sangat menyenangkan tentunya. Dan kami sangat beruntung hari itu, karena cuaca sangat bagus, ada sinar matahari, memang cuaca seperti ini adalah menjadi “surga” bagi yang ingin menikmati liburan dan winter sport, spt ski, snowboard, dan schlitteln ini.

Pasukan yang mulai kelelahan

Hari pun beranjak petang, kira-kira jam 5 kami meninggalkan tempat ini, dan kami tidak lupa mengembalikan Schlitteln yang kami pinjam, sebelum kami menuju stasiun kereta kabel Mürren tujuan Stechelberg. Sekali lagi kami mesti ganti kereta kabel ini di Gimmelwald, yang akan turun dengan gondola yang berbeda. Padahal perjalanan yang hanya 5 menit ini, terasa sedikit menegangkan, sekalipun sudah biasa, karena kemiringannya sangat tajam, dan lembahnya sangat dalam, tampak dekat sekali tebing batu yang kokoh dan keras. Dan gondola terasa agak berayun, bergoyang, kurang stabil, namun memang operatornya sudah paham betul, dalam setiap kejadian seperti ini gondola akan dipelankan kecepatannya agar menjaga keseimbangan gondola yang berkapasitas 100 orang tsb.

Jangan dimakan es nya ya...hehehe

Akhirnya kami pun tiba di bawah, di lembah sela-sela pegunungan Alpen tersebut, kemudian dengan menaiki Bus (yang dioperaikan Kantor Pos Swiss, die Post) berwarna kuning, kami melanjutkan perjalanan ke Lauterbrunnen. Dari sana ambil kereta menuju Interlaken Ost, hingga akhirnya tiba di rumah Oberentfelden, jam sudah menunjukkan angka kira-kira 9 malam.

Dan misi akhir pekan menikmati tebalnya salju di Alpen kali ini terlaksana dengant tenteram dan damai.

Memang asyik berseluncur salju bukan?

Salam

Alfonco

Jungfraujoch 3471 m ü.M, Top of Europe

Jungfraujoch, 3471 meter di atas permukaan laut, disebut sebagai Top of Europe. Puncak yang berada di deretan pegunungan Alpen di Switzerland adalah termasuk salah satu warisan dunia yang diakui badan dunia UNESCO. Hari Sabtu, 31 Oktober 2009 kami sekeluarga menghabiskan akhir pekan di sana. Berkebetulan ada 30% Ermässigung dari SBB yang berlaku hingga akhir Oktober 2009, sehingga ongkos perjalanan ke sana 30% persen lebih murah dari biasanya. Dengan kocek 101 sFr per orang dewasa dari Oberentfelden, sudah bisa tiba di tujuan,  anak-anak sampai 15 tahun gratis bila bepergian dengan satu orang dewasa. Tiket ke Jungfraujoch termasuk yang termahal di Switzerland utk ukuran wisata ke pegunungan.

http://www.jungfraubahn.ch/

Jungfraujoch 3471 M, Top of Europe

Jungfraujoch 3471 M, Top of Europe

Sekitar pukul 12.22 siang kami sudah tiba di Jungfraujoch, setelah sekitar 4.5 jam perjalan kereta api mulai dari Oberentfelden, tampak di sepanjang perjalanan ragam pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan, di antara kaki dan lembah pegunungan Alpen yang tampak sangat kokoh dan gagah itu. Dari Interlaken Ost, masih ada 2 kali pergantian kereta untuk bisa tiba di puncak Jungfraujoch. 

Peta Perjalanan dari Interlaken Ost ke Jungfaujoch

Peta Perjalanan dari Interlaken Ost ke Jungfaujoch

Perjalanan terakhir dari Kleine Scheidegg adalah perjalanan kereta gunung yang paling menanjak naik dengan kecepatan kereta api gunung yang cukup pelan, berkisar 50 menit dan nyaris selama 40 menit adalah menerobos terowongan batu yang dibentuk menjadi tunnel hampir seratus tahun lalu, beroperasi sejak tahun 1912.

Saya sempat membayangkan betapa pintar dan jeniusnya para insinyur yang merancang(disamping teknologinya)  punya ide desain untuk terowongan sepanjang 7 Km dari Eiger sampai Mönch yang menembus bebatuan keras dan sangat solid tersebut.

Sebelum tiba di puncak, ada 2 kali berhenti di perjalanan (Eigerwand dan Eismeer, Eismeer bila diartikan adalah lautan es) utk sejenak menghirup udara segar di area yang sudah disediakan berupa akses dan jendela di kaki gunung batu untuk dapat memandang ke bawah, sekaligus agar penumpang tidak terlalu bosan dan sekaligus untuk dapat menyesuaikan diri dengan semakin berkurangnyag udara dan oksigen karena dampak ketinggian.

Di Kleine Scheidegg jereta datang untuk naik lagi ke Jungfraujoch

Di Kleine Scheidegg kereta datang untuk naik lagi ke Jungfraujoch

Setiba di stasiun terakhir di Jungfraujoch, kami pun segera bergegas ingin menyaksikan keanggunan Jungfraujoch, sejenak arti “Jungfrau” adalah “perempuan muda”, yang jelas mengisyaratkan sebuah keanggunan dan kecantikan bukan? Di sana kami bertemu dengan Debora dan Mike yang sudah lebih dulu sampai di sana. Namun karena perut sudah mulai terasa lapar, kami segera menuju restoran yang ada di sana, untuk mengisi bahan bakar agar ada energi utk menjelajahi kemolekan dan keanggunan tempat itu. Harga makanan tidaklah terlalu mahal, untuk bertiga, kami membayar tidak lebih dari 60 sFr. Ini juga salah satu keistimewaan tempat wisata di Swiss, harga makanan atau souvenir tidak berarti lebih mahal dibandingkan dengan di tempat umum.

En Guete !

En Guete !

Di pegunungan ini tidak ditemui tumbuhan yang tumbuh secara alami, hanya ditutupi oleh salju abadi (gletser) yang tidak pernah mencair sepanjang masa. Pegunungan yang terbentuk dari batu-batu keras yang konon katanya sudah ada sejak puluhan ribu tahun yang lalu yang sangat kokoh menjadi pemandangan yang sangat menakjubkan yang tampak pada tebing-tebing yang tinggi dan terjal.

Dengan Helikopter

Dengan Helikopter

Sangat banyak lokasi wisata yang ditawarkan di sana, fasilitas lift ataupun tangga juga tersedia, juga ada toko souvenir, ataupun untuk sekedar minum kopi, semua ada tempatnya. Bahkan kalau mau keluar dari gedung untuk berjalan di atas salju juga dipersilahkan.  Ada istana es (Eispalast), namun mesti hati-hati dan sepatu es atau sepatu salju serta jacket tebal dan sarung tangan, juga penutup kepala nampaknya menjadi wajib untuk dipakai. Banyak patung-patung es di dalamnya yang menambah serunya perjalanan ke istana es ini. Juga disediakan tempat-tempat khusus untuk sekedar mengambil gambar. Maka kamera Anda jangan sampai kehabisan baterai.

Eispalast

Eispalast

Selain didisain untuk tempat wisata, di sana juga ada dibangun gedung pusat observasi alam untuk keperluan geologi, fisika, astrologi dan hydrologi. Berada di ketinggian 117 meter dari pusat Jungfraujoch yang dapat dinaiki dengan menggunakan lift. Setiba di gedung observasi tersebut yang dinamakan Sphinx, maka kepuasan mata memandang sekeliling 360 derajat menjadi sebuah pengalaman yang dapat membuat kita semakin mengagumi kebesaran Sang Pencipta. Dari pusat Sphinx, Anda dapat melihat dengan jelas dan dekat tentang keanggunan 2 puncak gunung Mönch (4107 m ü.M) dan Jungfrau (4158 m ü.M), tinggal lihat ke kiri dan ke kanan, karena Anda tepat berada di antaranya. Diperkirakan sekitar 500 ribu orang mengunjungi tempat wisata Jungfraujoch ini setiap tahun dari berbagai penjuru dunia. Dari Asia, bangsa Jepang nampaknya yang paling banyak berkunjung ke sana, barangkali juga ada hubungan historikal antara insinyur Jepang dan Swiss dalam project rel kereta api yang menerobos bebatuan pada masa yang lampau.

Dari Sphinx tampak puncak Mönch

Dari Sphinx tampak puncak Mönch

Namun ada satu hal yang harus Anda cermati bila bepergian ke sana, yaitu agar berjalan pelan-pelan (tidak buru-buru ataupun berlari) termasuk saat menaiki atau menuruni tangga, karena efek ketinggian dimana tekanan udara makin rendah dan juga kandungan oksigen yang berkurang seiring dengan lebih renggangnya kerapatan udara. Dan himbauan tersebut dapat Anda baca pada setiap lorong atau tangga yang Anda temui. Bila berjalan buru-buru dapat membuat kerja jantung Anda lebih keras dari  biasanya untuk mengimbangi kebutuhan energi. Untuk orang tua, ambillah waktu untuk duduk istirahat sejenak untuk melepas capek.

Hamparan Es di luar gedung...

Hamparan Es di luar gedung...

Namun, dibandingkan dengang pengalaman dan petualangan di puncak Jungfraujoch yang dinas wisata Swiss menamakannya “Antara Sorga dan Bumi” (Zwischen Himmel und Erde, Between Heaven and Earth) sungguhlah tepat, dan Anda tidak rugi untuk membuktikannya.

DSCN2674

Antara Sorga dan Bumi

Selamat menikmati liburan Anda bersama keluarga ataupun orang yang Anda kasihi.

catatan:

m ü. M =meter über Meer, meter di atas permukaan laut

UNESCO = United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization

ditulis oleh: Alfonco Sinaga

Rigi, Ratunya Pegunungan

Liburan sekolah belum usai, dalam rangka itu saya juga  ikut ambil cuti kerja agar bisa liburan sama-sama dengan keluarga, kebetulan di kantor juga load tidak begitu tinggi, maka cuti 1 minggu pun saya ambil tanpa ragu. Hari itu Kamis, 16 Juli 2009, kali ini kami memilih Rigi sebagai sasaran jalan-jalan. Rigi itu adalah sebuah kawasan wisata pegunungan, di Swiss disebut sebagai “Königin der Berge” atau “Ratunya Pegunungan”, namun saya merasa yakin bahwa benar-benar Rigi itu adalah bak seorang Ratu, sangat cantik nan menawan, disamping tingginya “cuma” 1800 m di atas permukaan laut, tidak tinggi-tinggi amat dibandingkan dengan lokasi wisata pegunungan lainnya.

Baru tiba di Rigi Kulm

Baru tiba di Rigi Kulm

Karena tidak terlalu tinggi itulah maka di sana ditemukan tanaman, bunga-bungaan, rumput-rumputan, pohon-pohon yang masih tumbuh sempurna. Dari puncak Rigi Kulm akan tampak hamparan pegunungan ke berbagai penjuru, dan pegunungan ini diapit oleh 2 danau yaitu danau Zug (Zugersee) dan Danau Vierwaldstättersee, pokoknya luar biasa! Hanya itu yang bisa saya gambarkan.

Vierwaltstättersee

Vierwaldstättersee

Dari puncak Rigi Kulm, tampaknya lalu lintas kapal danau yang ramai, perahu layar dan speed boad yang sangat ramai, maklum ini kan musim panas. Untuk mengetahui lebih detail tentang Rigi ini, silahkan berkunjung pada link berikut ini :

http://www.rigi.ch/de/welcome.cfm

Perjalanan kali ini kami pilih dengan metode “keliling” yaitu naik kereta menuju Art-Goldau (via Zürich), kemudian dari Goldau naik kereta api pegunungan sampai ke puncak Rigi Kulm, kemudian nanti pulangnya dari Rigi Kulm turun dengan kereta api pegunungan menuju Vitznau atau naik kereta kabel (cable car) ke Weggis, cukup dengan bayar tageskarte (tiket seharian) 31,- sFr per orang halbtax, anak sampai 16 th masih gratis saat itu, selanjutnya dari Vitznau atau Weggis naik kapal danau menuju Luzern dan dari Luzern baru kembali ke rumah Oberentfelden. Benar-benar keliling, dan sungguh mengesankan dan lengkap rasanya.

Makan Siang

Makan Siang

Kami tiba di puncak Rigi-Kulm pukul 12 siang kurang, setelah menikmati pemandangan sebentar kami harus antri untuk makan siang, banyak sekali pelancong saat itu, sehingga restoran itu penuh sekali. Kami pun menikmati makan siang di puncak itu dengan pemandangan hamparan pegunungan yang hijau yang tampak hingga jauh di sana, juga tak mau ketinggalan lembu-lembu sejak tadi menikmati makan siangnya di hamparan lapangan rumput di area pegunungan itu, suara lonceng yang digantung di lehernya kedengaran berdering-dering nyaring sampai jauh.

Familie

Familie

Tampak para pelancong berjalan menyusuri jalan-jalan yang sudah disediakan yang menyisir bibir pegunungan dan tebing juga berkelok-kelok, karena selain akses dengan kereta api pegunungan, kereta kabel, juga orang bisa turun atau naik dengan berjalan kaki, cuma harus siapkan fisik dan sepatu gunung agar merasa nyaman di perjalanan, namun banyak orang yang memilih cara itu, terutama untuk turunnya.

Kereta jurusan Vitznau

Kereta jurusan Vitznau

Perjalanan kereta api untuk naik ke Rigi Kulm dari Goldau adalah sekitar 30 menit, demikian juga turunnya termasuk ke Vitznau. Namun kalau kereta kabel cuma 10 menit dari Rigi Kaltbad ke Weggis, tapi sungguh mengesankan, apalagi kalau pas mau turun, tampaklah kota pinggir danau, Weggis dari puncak Rigi Kaltbad yang terjal dan tinggi, wao sungguh mengagumkan.

Kereta dari Goldau

Kereta dari Goldau

Dari Staffel ke Rigi Kulm pp, kami sempatkan menikmati kereta api uap peninggalan masa lalu, yang masih menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya, ukurannya kecil, dan memang diperuntukkan untuk wisata. Petugasnya sudah tua-tua, tapi sangat ramah, dengan seragam khas mereka yang tampak berwibawa.

Kereta Uap Kuno

Kereta Uap Kuno

Masinisnya berkumis tebal yang ujungnya dilipat ke atas, bertopi dan tampak kekar dan gagah, dialah yang menjalankan kereta, menambah bahan bakar batu bara untuk memasak air dalam ketel uap, dan ketel uapnya menghasilkan uap yang akan memutar mesin kereta. Cukup bayar 3,- sFr sudah bisa menikmati perjalanan 10 menit tersebut, sungguh sebuah pengalaman unik dan pertama kali tentunya naik kereta api uap kuno.

bersama petugas kereta api uap

bersama petugas kereta api uap

Ada satu pengalaman yang sangat unik, yang mana hal tersebut sangat kutunggu-tunggu dari dulu, kapan bisa melihat orang Swiss memainkan alat musik khas Swiss yang bentuknya panjang bahkan sangat panjang dan suaranya sangat merdu dan biasanya alat musik ini ditiup dari atas pegunungan dengan personil puluhan orang (saat itu ada 14 orang plus 1 pelatihnya). Nama alat musik itu adalah Alphorn. Kebetulan saat kami berjalan-jalan di sana, kami beruntung ada satu grup musik ini yang sedang memainkannya, suaranya benar-benar merdu dan indah sekali.

Memainkan alat musik Alphorn

Memainkan alat musik Alphorn

Alphorn

Alphorn

Dekat lapangan rumput tempat bermain alat musik Alphorn, juga di sana adalah tempat terjun payung, yang banyak digunakan para penggemar wisata terjun payung, tapi tentu saja harus dengan sertifikat, artinya tidak boleh sembarang orang menikmati jenis wisata ini.

I love Jesus

I love Jesus

Seseorang yang baru terjun payung

Seseorang yang baru terjun payung

 

Di berbagai lokasi juga ada disediakan Spielplatz, atau tempat bermain untuk anak-anak, sehingga anak-anak bisa bermain di sana dengan gembira. Di atasnya tampak jalur kereta kabel menuju dan dari Weggis.

Cable Car

Cable car mau jemput penumpang dari atas

Sekitar pukul 6 sore, kami sudah tiba di Vitznau dan Weggis, selanjutnya sekitar 45 menit naik kapal menuju Luzern, kemudian pulang ke rumah Oberentfelden.

Schiff mau ke Luzern

Das Schiff nach Luzern

Sungguh sebuah perjalanan yang luar biasa, dan saya benar-benar yakin bahwa Rigi adalah Königin der Berge, ratunya pegunungan…

 

ditulis oleh : Alfonco Sinaga

Verkehrhaus Luzern (Museum Transportasi)

Sabtu 4 Juli 2009, kami menghabiskan waktu di Verkehrhaus Luzern (http://www.verkehrshaus.ch/), sebuah museum transportasi terbesar, terlengkap dan termegah di Swiss. Dari Luzern kami naik kapal, sebenarnya bisa naik kereta atau bis, tapi kan sekalian aja naik kapal danau biar tambah seru, cuma 10 menit sudah tiba di dermaga Verkehrhaus Lido, selanjutnya kami berjalan sekitar 5 menit ke Museum tersbut.

Naik kapal dari Luzern ke Verkehrhaus Lido

Naik kapal dari Luzern ke Verkehrhaus Lido

Museum ini adalah museum transportasi, maka tak heran di sana akan ditemukan jenis-jenis moda transportasi mulai jaman dulu hingga yang termodern, mulai dari pesawat udara tertua, kereta api tua, lokomotif tua, kenderaan kuno, sepeda motor kuno, kapal laut dan kapal danau, kapal bajak laut, hingga jenis kenderaan modern, semua dapat dinikmati di sana.

Pesawat Swiss Air Tua

Pesawat Swiss Air Tua

Bukan hanya itu, museum ini juga dirancang supaya mempunyai unsur entertainment yang dapat menjangkau seluruh lapisan usia, mulai dari anak-anak, mereka disediakan tempat bermain, mulai dari permainan kapal air yang menggunakan remote control, juga tempat bermain sambil belajar bekerjasama dengan anak-anak lainnya dalam melakukan pembangunan jalan ecek-ecek, sekop, alat pemutar semen, dll, yang semuanya adalah manual, mereka dilengkapi dengan helm dan pakaian khusus layaknya orang yang sedang membangun jalan raya.

Bekerja sambil bermain

Bekerja sambil bermain

Juga di sebelahnya disediakan sebuah circuit kecil yang dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas, dan pemandunya akan melatih anak-anak tsb untuk mengetahui arti rambu-rambu lalu lintas, serta dalam mengendarai kenderaannya supaya tidak melanggar peraturan, setelah mereka selesai, anak-anak itu diberi semacam SIM ecek-ecek.

Latar pesawat tua

Latar pesawat tua

Di sana juga ada kereta api mini lengkap dengan rel mininya dan disertai dengan palang kereta serta lampu signal juga, lokomotifnya digerakkan oleh mesin diesel kecil dan gerbongnya sangat pendek dan kecil. Setiap penumpangnya akan menikmati 3 kali putaran.

Kereta Api Mini

Kereta Api Mini

Juga tak ketinggalan, restoran juga tersedia di sana, karena memang rata-rata orang akan menghabiskan waktu seharian di sana, memang nampaknya pengurus museum tersebut sangat jeli dan sangat inovatif, sehingga waktu seharian akan terpakai di sana, bahkan kadang tidak cukup, buktinya tidak semua tempat bisa kami kunjungi dan waktu berkunjung museum sudah berakhir pada pukul 18.00.

Ice Age 3

Ice Age 3

Pukul 18.00, kami pun segera menuju Kino (Bioskop) yang merupakan bagian dari Museum ini, karena saat itu ICE AGE 3 akan diputar sejak bbrp hari sebelumnya, namun tiketnya adalah terpisah dari tiket museum. Yang berbeda dari film ini adanya dinosaurus yang berukuran sangat besar, sementara pada Ice Age 2 tidak ada dinosaurus. Kami harus memakai kacamata 3D, sungguh menakjubkan, seakan dekat sekali di mata. Kami sangat menikmati akhir pekan ini, khususnya juga anak kami Gerald dapat menikmati bermain sambil belajar di sana, juga dapat menikmati film terbaru yang sangat digemari anak-anak tersebut. Sayang dia kurang betah memakai kacamata 3D, padahal kalau mata telanjang, akan kurang seru nontonnya.

Bis nya unik ya

Bis nya unik ya

ditulis oleh : Alfonco Sinaga

Ultah Gerald ke-6 di Kindergarten

Ulang tahun Gerald sebenarnya adalah 24 Mei, namun berhubung waktu itu, tanggal 23 Mei kami harus pulang kampung ke Sipanganbolon, maka perayaan ulang tahun Gerald jadi tertunda. Di pesawat Singapore Airlines, tatkala dalam perjalanan, saya belikan dia jam tangan merk Lego. Padahal sudah direncanakan juga mau ke Europark, namun terpaksa tertunda, maaflah buat Gerald sebab semua itu terjadi di luar rencana semua. Semoga semuanya mendatangkan kebaikan di hari-hari yang akan datang.

Di Kindergarten Ausserfeld pun terpaksa menunda acara “penjemputan” anak-anak TK bersama gurunya, diundur menjadi tanggal 12 Juni 2009. Namun seakan Gerald sangat mengerti akan semuanya, sebab kali ini dia tidak banyak menuntut, tidak seperti biasanya, misalnya dia akan selalu menanyakan kapan ke Europapark.

Gerald dijemput teman-teman TK  bersama gurunya Frau Hunt

Gerald dijemput teman-teman TK bersama gurunya Frau Hunt

Kue ulang tahun berlabel Spongebob sudah dipesan dan dibawa serta ke Kindergarten, dan di sana istri saya membagi-bagikannya kepada teman-teman TK Gerald juga gurunya. Di sana sudah disediakan 6 lilin oleh sekolahnya, demikian juga persiapan standard lainnya sudah disiapkan oleh gurunya, seperti menyiapkan batu-batu kecil yang akan diberikan anak-anak lainnya kepada Gerald seraya menyampaikan sepatah kata.

Gerald duduk kursi khusus, begitu tradisinya

Gerald duduk kursi khusus, begitu tradisinya

Kemudian, lilin ditiup dan anak-anak menyanyikan “Schön Geburstag Gerald…” dst. Tak ketinggalan gurunya juga menyampaikan sepatah kata bagi yang berulang tahun, kemudian kue dibagi dan ada coklat kecil yang sudah disediakan sekolahnya juga, untuk dibagikan bagi anak-anak.

Kue Ultah Spongebob dipesan khusus

Kue Ultah Spongebob dipesan khusus

Selamat ulang tahun anak kami Gerald, semoga kau senantiasa diberkati Tuhan, panjang umurmu dan masa depan yang gemilang, sehat selalu dan menjadi anak yang baik dan pintar. Doa Papa dan Mama selalu menyertaimu, Papa dan Mama sangat menyayangi Gerald juga sangat bangga sama kamu.

Suasana riuh anak-anak TK

Suasana riuh anak-anak TK

Sekali lagi, selamat ulang tahun buat Gerald, Schön Gerburstag, viele gluck…

Dari Papa dan Mama yang sangat menyayangi Gerald

Alfonco Sinaga dan Emria Sitorus

Krumbach, Jerman

Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya kami sekeluarga dapat waktu yang lebih tepat untuk berkunjung ke Jerman, tepatnya di Krumbach, sebuah kota kecil di daerah Bayern (Bavaria), berpenduduk sekitar 15 ribu jiwa. Kota terdekat ke sana yang lumayan besar adalah Ulm, yang bisa ditempuh sekitar 30 menit dengan kenderaan roda 4. Dan di sanalah kami dijemput oleh Ito dan Lae (Emmi dan Gerhard). Sekitar pukul 13.45 kami tiba di Ulm Bahnhof. Kota besar terdekat ke Ulm adalah Stutgart. Dari tempat kami di Swiss, dibutuhkan sekitar 4,5 jam lebih hingga ke Ulm, namun perjalanan sangat menyenangkan. Dari Zürich HB kami melanjutkan perjalanan kereta api ke Schaffhausen, masih bagian wilayah Swiss. Sebelum mencapai Schaffhausen kereta api melintas dengan jelas mengitari air terjun terbesar di Eropa yang dinamakan Schaffhausen Rheinfal.

Schaffhausen Rheinfal

Schaffhausen Rheinfal

Karena jadwal kereta api yang kurang sempurna (dibandingkan dengan Swiss…ceile), maka kami harus menunggu di Schaffhausen selama 1 jam lebih untuk meneruskan perjalanan ke Jerman. Namun ada juga untungnya sehingga kami sempatkan berjalan-jalan di kota Schaffhausen. Suasana hari Jumat 19 Juni 2009 itu memang nampaknya tidak seramai weekend. Di kota ini melintas juga Sungai Rhein yang amat panjang itu yang bisa dikata menjadi batas wilayah Swiss di bagian utara, bayangkan sungai ini melintas dari Bodensee hingga Basel dan melewati Schaffhausen, di Basel entah kemana lagi perginya.

Di Sungai Rhein Schaffhausen bisa juga menikmati sebuah romantisme

Di Sungai Rhein Schaffhausen bisa juga menikmati sebuah romantisme

Setelah lebih 1 jam dalam cuaca yang gerimis itu, kereta Jerman pun (DB) tiba dan kami siap-siap untuk melanjutkan 2 jam lebih perjalanan menuju Ulm, Jerman, jadi kalau dari Perbatasan Swiss-Jerman tidak jauh bukan? Namun anak kami Gerald sempat tampak kecewa karena kereta yang datang bentuknya tidak seperti yang dia harapkan. Gerald memang senang naik kereta api, dan dia senang melihat gambar-gambar kereta api dari berbagai negara. Yang datang adalah Interregional Express (IRE) rupanya yang ada dalam benaknya adalah ICN (Kereta Api Cepat, atau Schnellzug), dan begitu kereta datang Gerald berkata sama mamanya “Koq ini Ma?” Dia tampak kecewa, tapi karena memang kami pun tidak tahu (kurang tahu) sebelumnya, mau tak mau kami naik dan Gerald kami janjikan untuk pulangnya saja nanti kami cari yang ICN, cukup dengan melihat jadwalnya saja.

IRE DB bermesin diesel yang sempat membuat Gerald kecewa

IRE DB bermesin diesel yang sempat membuat Gerald kecewa

Memang sesuai namanya IRE, kereta ini sering sekali berhenti antara 15-20 menit, makanya sedikit agak lambat dan membosankan, penumpang turun naik dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Namun sepanjang jalan pemandangan kiri kanan sungguh indah, kiri kanan tampak ladang luas berwarna hijau, maklum ini kan musim semi, musim hijau, hamparan ladang itu sangat nyaman dipandang dan sangat damai. Dan yang tak kalau menariknya, kami menyusuri sisi Danau Bodensee, danau (=see) ini adalah merupakan perbatasan antara Swiss dan Jerman.

Bodensee yang indah

Bodensee yang indah

Terasa sekali jalan yang berkelok-kelok itu, kereta api kadang miring ke kanan lalu ke kiri, yang dapat membuat perut menjadi mual (bagi yang tidak kuat…hehehe).

Tidak terasa, akhirnya kami sampai di Ulm Bhf on time sesuai tiket, jam 13.45, mana perut sudah mulai keroncongan lagi, karena tadinya kami mengira di kereta ada restorannya, kalau yang ICN rupanya kami salah perkiraan. Ito Emmi dan Lae sudah menunggu di atas tangga eskalator, istri saya dan Ito Emmi sudah 16 tahun tidak bertemu, sempat mereka tidak mengenal satu sama lain, kalau bukan karena saya dan Lae yang memang 3 tahun lalu saya sudah pernah ke rumah mereka di Jerman. “Horas Lae…” teriak Lae dari kerumunan orang yang sedang menuju keluar stasiun, barulah saya menoleh ke belakang, karena saya mengira tadi mereka menunggu di luar. Lalu saya jawab dan mencoba mencari sumber suara sambil menghentikan koper-trolley yang saya bawa dan langsung kami bertemu “Bah Horas Lae..!” kamipun berpelukan. Demikian juga istri saya Emria dan Emmi yang sudah 16 tahun tidak bertemu sejak pesta pernikahan mereka dulu di kampung.

Emria dan Rista

Emria dan Rista

Kami sangat gembira, dan sembari kami menunggu di tempat parkir, Emria, Gerald dan Emmi pergi membeli burger untuk sekedar mengganjal perut. Selanjutnya kami menuju rumah mereka di Krumbach, sekitar 30 menit perjalanan dengan kenderaan, kalau kereta api akan lebih dari 1 jam dan jadwal kereta api ke sana kurang bagus.

Inilah landscape Krumbach dari jauh
Inilah landscape Krumbach dari jauh

Hari dan malam pertama kami menginap di rumah Lae Gerd/Ito Emmi, kami tidur sampai larut malam, jam 2 pagi baru kami tidur setelah cerita panjang lebar tentang pengalaman masa lalu di kampung hingga saat ini bertemu di perantauan yang nun jauh, terutama istri saya dan Ito Emmi nyaris selama 16 tahun tidak bertemu, kalau saya 3 tahun lalu masih baru berkunjung ke rumah mereka, waktu itu ada tugas kantor dari Areva T&D Jakarta ke Jerman, jadi saya sempatkan singgah di sana.

Gerald dan Christian

Gerald dan Christian

Hari dan malam kedua, kami menginap di rumah Lae Martin/Ito Rista, siangnya kami makan siang di rumah orang tua Lae Martin, Gerald dan Christian bermain bersama di sekitar perumahan tersebut.
Sungguh berkesan, kunjungan pertama kami ini sungguh berkesan, khususnya istri saya yang baru bertemu mereka setelah sekian lama tidak bertemu sejak sama-sama dulu di kampung.
Hari Minggu sore, kamipun kembali ke Swiss, kami diantar Lae Martin/Ito Rista sampai ke Bahnhof Ulm, dan selanjutnya kami kembali ke Swiss.
Inilah Kereta ICN yang kata Gerald kereta Ekpress, datang dari Stutgart menuju Zürich

Inilah Kereta ICN yang kata Gerald kereta Ekspress, Stutgart-Zürich

Walaupun tidak sepanjang jalan, kurang dari separoh perjalanan kami ganti kereta, hanya untuk menepati janji naik kereta ICN yang sempat membuat Gerald kecewa sewaktu dalam perjalanan ke Jerman, waktu itu saya janjikan pulangnya akan naik ICN. Sehingga diapun merasa lengkap kepuasannya, walaupun kami harus nunggu kereta itu datang dari Stutgart, lumayan lama kami nunggunya, di pertengahan jalan.
 
Auf wieder sehen, sampai jumpa lagi Jerman…
Oleh:Alfonco Sinaga

Mt. Pilatus 2132 M, Switzerland

Pengantar: Dapatkan kisah Pontius Pilatus pada akhir tulisan, Pilatus adalah orang yang bertanggungjawab telah menyalibkan Yesus Kristus.

Tepat pada peringatan hari kenaikan Yesus Kristus ke sorga, yang tahun ini jatuh pada Jumat, tanggal 22 Mei 2009, (sehari sebelum kami pulkam ke kampung halaman karena berita duka, ayah tercinta sudah dipanggil Tuhan), kami sekeluarga memilih untuk bertamasya naik ke puncak gunung Pilatus 2132 M di atas permukaan laut. Rangkaian perjalanan ke sana, kami mulai naik kereta api dari tempat kami menuju Luzern. Dan dari Luzern kami menaiki kapal danau yang akan mengantar kami ke pelabuhan akhir Alpnachstad menuju puncak Pilatus. Untuk lebih detailnya silahkan mengunjungi situs :

http://www.pilatus.ch/

Dari Luzern, kami sudah membeli tiket terusan satu paket Luzern-Aplnachstad-Pilatus Kulm-Kriens-Luzern, cukup satu tiket seharga sekitar 45 sFr utk dewasa, dan gratis untuk anak di bawah 6 tahun. Waktu itu Gerald perlu 2 hari lagi untuk 6 tahun, jadi masih gratis…hehehe. Dari Luzern ke Aplnachstad naik kapal danau, dari Alpnachstad ke Pilatus Kulm naik Pilatus Bahn, kereta api khusus utk bisa naik menanjak sampai 45 derajat, kemudian dari Pilatus Kulm naik cable car dan gondola menuju Kriens dan dari Kriens naik bus menuju Luzern, selanjutnya pulang dengan KA reguler.

Photo ini diambil dari kapal danau yang kami tumpangi ukuran lebih besar dan berlawanan arah

Photo ini diambil dari kapal danau yang kami tumpangi ukuran lebih besar dan berlawanan arah, sesaat meninggalkan kota Luzern

Perjalanan mengarungi danau yang dimiliki oleh 4 kanton sehingga dinamakan danau Vierwaldstättersee (vier = 4, dan see = danau, dalam bahasa Jerman), yang memakan waktu kurang lebih 90 menit itu sungguh fantastis, pemandangan sekeliling danau sungguh menakjubkan, mulai dari pegunungan yang indah, di kejauhan tampak gletsier yang selalu membalut pegunungan itu sepanjang masa, juga pemandangan tempat tinggal dan aktivitas masyarakat yang tinggal di sekitar danau menjadi pemandangan yang sungguh luar biasa.

Di kejauhan tampak pegunungan es yang sangat mempesona

Di kejauhan tampak pegunungan es yang sangat mempesona

Kapal danau itu sering juga berhenti dari pelabuhan ke pelabuhan lainnya, untuk menurunkan dan menaikkan penumpang dari daerah itu. Bentuk danau tersebut sungguh berliku-liku tidak berbentuk bulat atau lonjong memanjang seperti layaknya danau pada umumnya.

Vierwaldstättersee

Vierwaldstättersee

Sungguh indah dan luar biasa pemandangan di sepanjang perjalanan, kiri kanan danau semuanya sangat indah, airnya yang tenang dan jernih menambah indahnya perjalanan hari itu. Kapal nya pun melaju dengan gagah perkasa dan menciptakan rasa nyaman dan aman, dikemudikan oleh kapten kapal yang tampak sungguh berpengalaman dan professional.

Suasana di atas kapal

Suasana di atas kapal

Kehidupan masyarakat di sepanjang pinggir danau juga sangat modern, nampak dari bangunan-bangunan di sana, cukup kokoh berdiri dan rapi, serta kapal-kapal mereka, seperti speed boad, perahu, dll, diparkir dengan bagus menggunakan peralatan dan teknologi yang memadai. Juga di sepanjang pinggir danau, tampak banyak rumah-rumah peristirahatan, atau berupa villa dan taman-taman ataupun restoran.

Kehidupan di pinggir danau

Kehidupan di pinggir danau, di lereng pebukitan ada peternakan domba

Dari kejauhan tampaklah gunung batu Pilatus yang berwarna agak gelap, maklum karena didominasi oleh bebatuan yang sebagian diselimuti oleh es abadi. Di sana tidak tumbuh banyak tanaman, sangat gersang, barangkali disebabkan oleh suhu rata-rata tahunan yang rendah, sehingga tidak memungkinkan tanaman tumbuh sempurna di samping pegunungan tersebut adalah sebenarnya terdiri dari bebatuan yang sudah kokoh selama ribuan tahun.

Mount Pilatus tampak dari kejauhan, tapi kapal masih menuju kiri, tidak langsung lurus ke depan

Mount Pilatus tampak dari kejauhan, tapi kapal masih menuju kiri, tidak langsung lurus ke depan

 

Anak mudanya sedang membelakangi Mt. Pilatus

Anak mudanya sedang membelakangi Mt. Pilatus

Dan akhirnya setelah 90 menit perjalanan dari Luzern, kami tiba di pelabuhan terakhir Alpnachstad, setelah kapal melewati bawah sebuah jembatan dengan ketinggian 7 meter, dimana pada saat melewati jembatan tersebut, tiang menara kapal mesti diturunkan menggunakan tenaga hidrolik sehingga kapal bisa lewat dari bawah jembatan jalan tol tersebut. Dan kamipun tiba di pelabuhan akhir dan selanjutnya akan naik ke Puncak Pilatus dengan menggunakan kereta api yang akan naik menanjak hingga ke puncak Pilatus 2132 meter dpl.

Selamat datang di kaki Puncak Pilatus

Selamat datang di kaki Puncak Pilatus, kereta api khusus sudah menunggu, berwarna merah akan menanjak miring

Kereta api khusus itu dinamakan “WORLD’S STEEPEST COGWHEEL RAILWAY” ( http://www.pilatus.ch/content-n38-sD.html ) karena memang jalannya sangat lambat, kecepatannya maksimum sekitar 3 m/detik, di tengah relnya ada semacam roda gigi tambahan sehingga kereta api tidak akan meluncur sekalipun kemiringan mencapai 45 derajat.

Kereta Api khusus sedang menanjak, tampak ada rel tambahan di tengah rel dan di bawah sana tampak tempat pemberangkatan

Kereta Api khusus sedang menanjak, tampak ada rel tambahan di tengah rel dan di bawah sana tampak tempat pemberangkatan

Dibutuhkan waktu 30-40 menit hingga mencapi puncak Pilatus, dan di sepanjang perjalanan kita bisa menikmati alam sekitar, pohon-pohon yang tinggi dan lurus-lurus, juga rumput-rumput serta bunga-bunga hutan, apalagi saat itu kan musim semi, sungguh mempesona.

Inilah kereta api khusus yang sudah tiba di puncak Pilatus 2132 M

Inilah kereta api khusus yang sudah tiba di puncak Pilatus 2132 M

Setiba kami di puncak Pilatus, waktu sudah menunjukkan jam makan siang, lalu setelah kami berjalan-jalan sebentar, kami mencari restoran untuk makan siang di sana. Puncak itu dinamakan Pilatus Kulm, di sana lengkap juga seperti Hotel, toko souvenir, restoran. Jadi Anda juga bisa menghabiskan uang Anda di sana, dan soal harga tidak jauh beda dengan di tempat lainnya di kota, itulah keunikan Swiss, soal harga makanan dan barang nyaris tidak ada perbedaan dimanapun, termasuk di Airport.

Makan siang di Puncak Pilatus

Makan siang di Puncak Pilatus

Sehabis makan siang, kami berjalan menaiki tempat-tempat yang sudah memang disediakan untuk dikunjungi para pengunjung, banyak jalan dan banyak tujuan yang bisa dinikmati di sana, hanya saja, hati-hati bagi Anda yang tidak tahan akan ketinggian, yang bisa menjadi tidak seimbang melihat kecuraman dan ketinggian, sebaiknya jangan coba-coba ke tempat-tempat yang tinggi dan terjal. Oh ya biaya makan siang kami bertiga, cuma sekitar 65 sFr, gak mahal kan, itu juga keunikan Swiss, tidak seperti di tempat liburan di tempat wisata di belahan Eropa lainnya spt Italia dan Francis, biaya makan sangat mahal, kayak disengaja.

Latarbelakang Hotel Pilatus Kulm dan Restoran tempat kami makan siang tadi

Latarbelakang Hotel Pilatus Kulm dan di bawahnya Restoran tempat kami makan siang tadi

Sekali lagi bila  Anda tidak bisa ketinggian, maka jangan coba-coba naik ke puncak lebih tinggi, karena di sisi kiri Anda ataupun di belakang Anda langsung terjal hampir 90 derajat sampai ratusan meter, dan hanya ada penyanggah pagar kayu di satu sisi.

Ihhh...di belakang langsung terjal

Ihhh...di belakang langsung terjal

Sekitar 3-4 jam kami menikmati keindahan pemandangan dari puncak Pilatus yang bisa melihat ke seluruh penjuru 360 derajat, nampaklah danau Vierwaldstättersee yang berliku-liku itu dan juga kota-kota kecil di bawah sana seperti Kriens, dsb. Kami juga mengunjungi toko souvenir dan mencoba fasilitas internet di sana, sayang harus bayar minimal 1 sFr. Oh ya selain tujuan wisata, Puncak Pilatus ini juga dimanfaatkan sebagai stasiun Meteorologi, jadi multi fungsi lah.

Cukup puas kami pun memutuskan untuk turun, kalau tadi naik dengan kereta api, sekarang kami putuskan untuk turun dengan cableway, atau cable car, yaitu sebuah gondola bermuatan 40 orang digantung pada 4 cable berukuran  cukup besar berkualitas tinggi serta memiliki kelenturan yang teruji sehingga cable itu akan ditarik dari stasiunnya, sementara gondola itu tetap terkunci pada ke-4 cable tersebut, spesifikasi cablecar  tersebut bisa dibaca pada situs http://www.pilatus.ch/content-n40-sD.html 

Cableway atau cablecar dari Pilatus Kulm menuju Frakmünteg selama 5 menit

Cableway atau cablecar muatan 40 orang dari Pilatus Kulm menuju Frakmünteg selama 5 menit

Setelah tiba di Frakmünteg selama 5 menit dari Puncak Pilatus Kulm, kami harus ganti cable way dengan ukuran lebih kecil isinya maksimum 4 orang dinamakan Panorama Gondelbahn, tapi jumlahnya sangat banyak bergelantungan ditarik dengan 1 cable ukuran besar, untuk spesifikasinya silahkan kunjungi link http://www.pilatus.ch/content-n40-sD.html. Kami tidak langsung melanjutkan perjalanan dengan Gondelbahn ini, tapi kami keluar lagi dari stasiun karena di luar sana ada lagi tempat rekreasi, seperti mobil-mobilan yang meluncur dari bebukitan berkelok-kelok hingga ke bawah, juga ada kabel-kabel seluncur dan orangnya bergelantungan meluncur ke tempat yang lebih rendah, dan juga ada tempat bermain untuk anak-anak, dan di Frakmünteg ini juga tersedia Restoran di kaki gunung itu.

Panorama Gondelbahn, muatannya maksimum 4 orang

Panorama Gondelbahn, muatannya maksimum 4 orang

Gondelbahn ini akan tidak langsung ke Kriens, tapi mesti ganti Gondelbahn lagi di Krienseregg, karena ada batas panjang tertentu dari cable tersebut utk satu putaran. Di Kriensebergg, kami singgah selama kurang lebih 1 jam, karena di sana ada juga tempat bermain anak-anak splieplatz yang cukup memadai dan menarik serta menantang, seperti perosotan, ayunan, dan jejaring tambang yang dirangkai sedemikian rupa utk tempat anak-anak mencoba nyali dan kemampuan berjalan dari jejaring tambang tersebut. Gerald sangat menikmati tantangan ini.

 

Panorama Gondelbahn Frakmünteg-Kriens

Panorama Gondelbahn Frakmünteg-Kriens, kejauhan Mt. Pilatus

Setelah sekitar 1 jam, hari semakin sore, sudah pukul 5 lewat, kami pun bergegas melanjutkan perjalanan ke Kriens dengan masih menggunakan Panorama Gondolbahn, di sepanjang jalan, tampak pucuk-pucuk pepohonan yang sedang berdaun lebat dan tampak lahan-lahan pertanian serta peternakan, juga pemukiman-pemukiman penduduk, sesekali terdengar lonceng yang digantung pada leher hewan peliharaan seperti lembu, dll. Total waktu perjalanan yang dibutuhkan dari Pilatus Kulm hingga Kriens ada sekitar 30-40 menit, dengan waktu sebanyak itu sungguh banyak pemandangan yang  bisa dinikmati bukan. Dari Kriens kami naik trolley bis TRO No. 1 menuju Luzern, dan selanjutnya kembali ke rumah naik kereta api reguler.

Trolley Bus No 1 (TRO 1) dari Kriens Pilatus-Lende menuju Luzern, sekitar 20 menit

Trolley Bus No 1 (TRO 1) dari Kriens Linde-Pilatus menuju Luzern, 28 menit

Legenda Pilatus

Pada jaman dahulu, sebelum abad ke-16, penduduk yang tinggal di sekitar Puncak Pilatus, selalu dihebohkan dan diganggu oleh badai dan guntur yang dapat membinasakan yang datang dari sebuah danau kecil yang ada di sekitar Puncak Pilatus yang dinamakan Danau Oberalp, ukurannya sangat kecil, bahkan sebenarnya lebih tepat disebut seperti kolam, namun karena kolam itu terjadi secara alami maka di sini tetap disebut itu sebuah danau.

Oberalpsee atau Danau Oberalp yang sangat kecil

Oberalpsee atau Danau Oberalp yang sangat kecil

Badai gemuruh disertai guntur akan menggelegar manakala air danau itu bergejolak dan bergoncang, penduduk setempat meyakini itu adalah sebagai pertanda bangkitnya arwah Pontius Pilatus yang terjadi setiap Good Friday, yaitu saat Yesus disalibkan, yang mana keputusan tersebut tidak lepas dari keputusan kepemimpinan Pontius Pilatus saat itu. Masyarakat setempat kala itu percaya bahwa setiap sekali setahun pada hari Jumat Agung, Good Friday, maka arwah Pontius Pilatus seolah sedang mencuci darah Yesus Kristus dari tangannya dengan air Danau Oberalp yang jernih itu. Memang benar, kala orang berduyun-duyun datang kepada Pilatus untuk meminta persetujuan untuk menyalibkan Yesus Kristus, memang Pontius Pilatus mencuci tangannya dan menyerahkan sepenuhnya kepada orang-orang yang sudah ramai di luar istananya apakah Yesus Kristus disalibkan atau tidak, sebuah sikap yang tidak semestinya sebagai pemimpin, karena “cuci tangan” dari ketidakadilan.

Illustrasi Danau Pilatus

Illustrasi Danau Pilatus

Bagaimana mungkin air danau yang cuma sedikit itu dapat mengeluarkan tenaga dan badai gemuruh yang menggelegar? Maka orang meyakini pasti ada peranan roh arwah seseorang yaitu Pilatus yang sedang menjelma dalam reinkarnasi berupa badai gemuruh dan guntur disertai air danau yang bergejolak. Seperti diketahui pada abad pertengahan, orang sangat percaya pada hal-hal mistis dan mantra-mantra. Banyak orang jaman dulu yang pergi berguru ke sana, dan belajar untuk mendalami ilmu-ilmu mistis dan juga menguji ketenangan arwah Pontius Pilatus semenjak kejadian-kejadian itu.

Bagaimana Jasad Pontius Pilatus Sampai ke Swiss

Memang patut dipertanyakan, Pontius Pilatus kan bekas Gubernur Romawi, yang artinya semestinya jasadnya dikubur di Italia sana, atau di Roma, tidak mesti jauh-jauh ke Swiss. Bayangkan dari Roma ke Puncak Pilatus Swiss ini barangkali dipisahkan ribuan kilometer, tapi koq bisa?

Setelah kematian Pontius Pilatus Sang Gubernur Romawi, banyak sekali mitos negatif yang berkembang, tentu hal itu dikaitkan dengan ketidakteladanannya dalam kepemimpinannya, reputasinya yang jelek, yang telah ”membiarkan” Yesus Kristus seorang yang tidak ditemukan kesalahannya tapi disalibkan, bahkan disebutkan Kaisar Tiberius, mencampakkannya ke dalam gilingan rantai sebagai hukuman padanya karena sikapnya yang membiarkan Yesus Kristus disalibkan, dan Pilatus berniat bunuh diri. Lalu jasadnya ditenggelamkan ke Sungai Tiber di Italia, namun sungai itupun menolak kehadirannya, yang menimbulkan banjir besar. Lalu kemudian jasad Pilatus ditenggelamkan ke Sungai Rhone, namun sama saja, tetap membuat masalah dan kesulitan. (Sungai Rhone adalah sebuah sungai besar yang melalui Swiss dan Francis, sebuah sungai utama di Eropa).

Sungai Tiber di Italia

Sungai Tiber di Italia

Sungai Rhone melalui Swiss dan Francis

Sungai Rhone melalui Swiss dan Francis

Akhirnya jasadnya ditenggelamkan ke sebuah tempat yang jauh, di sebuah danau yang sangat kecil yaitu Danau Oberalp di Switzerland. Di sana, nampaknya arwahnya tidak terlalu membuat banyak masalah, hanya sekali setahun yaitu pada saat Jumat Agung, yaitu berupa badai dan gemuruh yang menakutkan dan air danau bergejolak.

Danau Pilatus, Pilatussee

Danau Pilatus, Pilatussee

Sekali setahun itu, saat peringatan penyaliban Yesus Kristus, arwah Pilatus menampakkan diri, menggambarkan dia duduk di kursi keagungan di tengah danau Pilatus, rambut abu-abunya berurai di air danau dan di kepalanya mengenakan mahkota keemasan sebagai yang bertindak seorang Hakim Agung kala itu yang menghakimi Yesus Kristus.

Arwah Pilatus Diusir pada Tahun 1585

Pada pertengahan abad ke-16, ketakutan yang melanda orang mulai dilawan oleh penduduk, dan pada tahun 1585, tersebutlah seorang Pendeta dari daerah Lucerne, Switzerland, dengan mengerahkan penduduk kota di sekitar Puncak Pilatus, mereka mendaki Puncak Pilatus (yang mencapai ketinggian 2132 m, spt sudah disebutkan di atas), sembari mereka menabuh genderang (drum band) yang bersuara keras untuk menantang arwah Pilatus. Mereka melempari batu ke dalam danau (kolam) yang kecil itu, dan mengarungi serta menyeberangi danau kecil itu. Namun roh Pilatus tidak bereaksi sama sekali.

Lalu pada tahun 1594, untuk meyakinkan roh Pilatus sudah pergi, di pinggir danau digalilah lobang untuk mengeringkan air danau itu. Barulah gangguan arwah Pilatus itu tidak terjadi lagi, hingga 400 tahun kemudian, hingga tahun 1980, galian itu sudah ditutup kembali, sehingga danau Pilatus itu menjadi ada lagi hingga sekarang. Dan kawasan Pilatus sekarang sudah “disulap” menjadi tujuan wisata domestik bahkan manca negara, sebuah wisata pegunungan yang sudah dikenal di seluruh penjuru dunia. Dan mereka yakin bahwa roh Pilatus sudah tenang di alamnya, rest in peace.

Demikianlah, cerita ini disadur dari sumbernya, tentu penyadurannya bisa tidak sempurna, untuk itu mohon kritikannya.

Pesan moral dari cerita ini adalah :

Janganlah kita sampai berlaku seperti seorang Pilatus, yang menghukum orang yang tidak bersalah Yesus Kristus, jangan kita menjadi orang yang menjalimi orang lain, dengan tangan kita yang gagah perkasa itu. Uang, kekuasaan dan pengaruh jangan sampai membuat orang atau pihak lain kita jalimi, ingat keadilan itu hanya Tuhan yang berhak mengadili. Namun, andaikata hukuman tidak “dibiarkan” Pilatus, maka grand disain Allah tidak akan terjadi, bahwa anak manusia itu mesti disalibkan, yaitu Yesus Kristus, namun sebisa mungkin, kalaupun sudah bagian dari “rencana Tuhan”, sebisa mungkin janganlah kita jadi seorang Pilatus abad modern.

Salam dalam kasih

ditulis oleh : Alfonco Sinaga

Zürich Zoo dan Kantor FIFA

Sabtu, 6 Juni 2009, sekalipun hujan menyertai sepanjang hari silih berganti, namun ketimbang weekend tidak dipergunakan sebaik-baiknya, kami pergi mengunjungi kebun binatang di Zürich. Kami berangkat jam 9 an dari stasiun dekat terdekat, setelah ganti kereta api di Lenzburg, kami langsung menuju Zürich. Dari Zürich menggunakan Tram No. 6 jurusan Zoo. Di perjalanan sebelum tiba ke tujuan, salah satu Universitas terkenal di Zürich ETH menjadi objek yang lain yang dapat dinikmati sepanjang jalan, di ETH inilah dahulu Albert Einstein pernah sekolah. Juga tak ketinggalan Universitas Zürich akan dilewati dan ada juga sekolah-sekolah terkenal lainnya. 

Tram No. 6 dari Zürich menuju Zürich Zoo
Tram No. 6 dari Zürich menuju Zürich Zoo

Setiba di halte terakhir setelah 23 menit perjalanan, namanya halte Zoo, tram pun memutar balik dan menunggu jadwal untuk kembali ke Zürich. Sekitar 5 menit harus berjalan kaki menuju pintu masuk kebun binatang, tentu saja tidak lupa beli tiket, 22 sFr untuk dewasa dan 11 sFr untuk anak-anak di atas 6 tahun. Maka kami bertiga harus membayar sebesar 55 sFr, ditambah ongkos tram pp sebesar 2.8 sFr x 2 (karena Gerald sudah punya juniorcard, cukup bayar 25 sFr utk setahun, selama bersama dengan orang tua, maka dia akan gratis), ditambah tiket SBB (kereta api) sebesar 19 sFr x 2, begitulah kira-kira gambaran biaya yang harus dikeluarkan untuk menjangkau tempat tsb.

Burung Flamingo
Burung Flamingo

Begitu masuk ke lokasi kebun binatang tsb, maka yang pertama langsung bisa disaksikan adalah sekawanan burung Flamingo yang berwarna agak kemerahan, dan cukup gaduh suaranya, mungkin saking banyaknya barangkali.

Lalu kami masuk ke dunia laut, dan air tawar, berbagai macam ikan dan tumbuhan laut, serta satwa air tawar dan daerah tropis banyak sekali di sana. Cukup banyak jenis-jenis satwa di sana, makanya total waktu 6-8 jam pun tidak terasa sudah terlewatkan. Memang agak berbeda suasana dan pengorganisasian kebun binatang di Zürich ini dengan yang ada di Basel, salah satunya di Zürich lokasi atau kandang dari satwa-satwa tesebut terkesan lebih alami. Namun rambu-rambu dan penunjuk jalan nampaknya Basel Zoo lebih rapi. Demikian juga restorannya, di Basel lebih bagus. Karena kami pun makan siang di sana, namun sayang hujan gerimis tidak henti-henti, maka acara makan siang sedikit terganggu, memang disediakan tempat dalam ruangan, tapi justru kita ingin di udara terbuka.

Pinguin kesukaan Gerald
Pinguin kesukaan Gerald

Hampir semua satwa yang sudah dikenal ada di sana, seperti gajah, badak, burung merak, jenis-jenis kera dan monyet, orang utan, dsb. Hingga binatang buas seperti harimau, singa, beruang dan serigala. Termasuk juga jenis-jenis ular menakutkan, seperti pyton, anakonda dan ikan beracun yang hidup bersama dengan ular anakonda (anakonda senang pada habitat yang ada airnya juga). Jenis-jenis kadal, iguana, binatang-binatang dari daratan Afrika, dll.

Seekor harimau sedang menikmati makan siangnya
Seekor harimau sedang menikmati makan siangnya

Kemudian jenis-jenis unggas, bebek, sampai burung yang bersarang di atas batang pohon yang tidak ada daunnya, dan suara paruhnya sangat kedengaran dari kejauhan bila digerakkan. Burung merak, burung hantu yang berbagai jenis, sampai burung yang berukuran kecil warna-warni pun  bisa disaksikan di sana. Dari singa laut, anjing laut, kuda nil dan sebagainya menambah pengetahuan akan jenis-jenis satwa yang ada di dunia ini.

Ada satu hal yang cukup menarik, yaitu adanya ruang isolasi yang besar sekali beratapkan material tembus pandang, di sana disebut sebagai Regenwald, atau Hutan Hujan Tropis, yang mana kehidupan di hutan Madagaskar, yang merupakan fotokopy dari taman nasional Masoala di sana, benar-benar disajikan di sana, dan taman isolasi itu cukup besar dan di sana juga disediakn restoran dan toko souvenir.

Anak mudanya bergaya..hehehe.
Anak mudanya bergaya..hehehe.

Nyaris tidak ada bedanya dengan hutan-hutan tropis di Indonesia, dari jenis-jenis tumbuhannya dan suasana hutannya cukup tercium dan terasa nuansa hutan di garis khatulistiwa.

Suasana di Wasserwald
Suasana di Regenwald

Begitulah gambaran singkat tentang weekend kali ini, yang kami nikmati kurang lebih 7 jam di sana, dan sekitar lewat pukul 5 sore, kamipun pulang, sembari menikmati es krim yang lezat kendati hujan gerimis selalu mewarnai hari itu, namun anehnya hujannya tidak langsung lebat, ya datang, berhenti kemudian datang lagi…

Dan kebetulan dekat tempat menunggu Tram No. 6, hanya berjarak sekitar 200 meter, di sana bisa ditemui kantor organisasi sepakbola dunia, FIFA, tadinya kami membayangkan kantor FIFA ini sungguh megah, besar dan berada di pusat kota Zürich, eh ternyata jauh dari bayangan itu semua, malah adanya di “pinggiran” kota Zürich dan dekat dengan hutan-hutan pinggiran kota.

Di pintu masuk kantor FIFA
Di pintu masuk kantor FIFA

Setelah tiba di Zürich Hauftbahnhof (HB), kami tidak langsung pulang, sekalipun hujan dan mendung melanda, serta bunyi petir dan kilat tampak di kejauhan, kami sempatkan juga melihat-lihat pemandangan kota Zürich yang memang indah dan sangat teratur itu, sambil menunggu jadwal kereta api yang akan membawa kami ke tujuan menuju pulang.

Salah satu sudut kota Zürich dari sebuah jembatan penyeberangan
Salah satu sudut kota Zürich dari sebuah jembatan penyeberangan

Selamat akhir pekan dan enjoy your time…God Bless.

ditulis oleh : Alfonco Sinaga

 

 

 

Santo Marco Basilica di Venezia

Di halaman sekitar kompleks bangunan gereja St.Marco

Di halaman sekitar kompleks bangunan gereja St.Marco

Setelah kenaikan Yesus Kristus ke sorga, setelah 50 hari kebangkitan-Nya, yang kemudian dikenal dengan hari Pentakosta, dan sesaat sebelum Yesus Kristus terangkat melawan gravitasi, Dia berpesan kepada murid-murid-Nya agar mereka mengabarkan Injil ke seluruh dunia, agar semua bangsa menjadi murid Yesus.

Markus yang merupakan salah satu murid Yesus dari ke-12 murid-Nya, tentu saja tidak mau mengabaikan pesan penting dari Gurunya tersebut.

Di belakanga tampak gereja Santo Marco Basilica

Di belakanga tampak gereja Santo Marco Basilica

Markus yang orang Kristen-Judea dari Jerusalem Israel menjadi salah seorang pemimpin Apostel setelah kematian Yesus. Bersama Barnabas, dia mengikuti Paulus dalam penginjilan, kemudian menetap di Alexandria di Mesir, dan Markus menjadi Bishop pertama dari komunitas Kristen di sana.

Lalu Markus melanjutkan penginjilannya ke Roma, di sana sudah ada duluan Petrus, murid Yesus yang lain, lalu kemudian Petrus ini memanggil Markus sebagai “anak”. Petrus sudah lebih dulu memimpin komunitas Kristen di Roma. Injil Petrus diperkirakan ditulis di Roma setelah tahun 50, atas permintaan Petrus dan Komunitas Kristen di sana yang ingin mempertahankan ajaran Petrus. Analisa penulis (saya-red) bahwa Petrus ini jauh lebih tua dari Markus, terlihat dari panggilan “anak” terhadap Markus, dan bukan hanya itu, Petrus meminta Markus untuk menuliskan Injil Markus dengan tujuan agar ajaran Petrus itu terpelihara, barangkali karena Markus ini lebih muda dan lebih terampil dalam menulis, dan memang terbukti ada banyak kemiripan dan pengulangan Injil Markus dan Petrus.

Tampak Depan Santo Marco Basilica, Venezia

Tampak Depan Santo Marco Basilica, Venezia

Lalu setelah itu, Markus kembali lagi ke Alexandria di Mesir, dan di sanalah dia mengalami mati martir, karena membela dan mengajarkan ajaran Kristus, terjadi pada 25 April 58.

Sampai tahun 828 jasad Markus berada di Alexandria, Mesir, hingga suatu saat terjadi pergolakan agama di Mesir, gereja dijadikan menjadi Mesjid, dan pada saat itu 2 pedagang dari Venezia yang bernama Buono da Malamocco dan Rustico da Torcello, sedang dalam perjanalan bisnis ke Alexandria, namun juga mereka pergi untuk memuliakan barang-barang peninggalan Santo (Markus-red) di dalam gereja, seperti yang dipesankan kepada kedua pedagang tersebut.

Lalu kedua pedagang tersebut, menyembunyikan peninggalan Markus termasuk  jasadnya ke dalam keranjang sayur dan keranjang babi. Karena ada orang Arab melihatnya, lalu mereka berteriak-teriak “babi, babi!”. Dalam pengejaran dan pelarian yang sangat berbahaya tersebut, dan keajaiban menyertai mereka, sehingga jasad Markus akhirnya sampai di Venezia, yang diterima oleh Doge Giustiniano Particiao, yang mana dia langsung memimpin konstruksi gereja Katolik yang sampai sekarang dinamakan Santo Marco Basilica. Marco adalah sebutan Markus dalam bahasa Italia. Dan orang Katolik menyebut Santo kepada Markus karena dianggap adalah orang suci, yang membawa penginjilan.

Salah satu lukisan/ukiran di atap depan gereja

Salah satu lukisan/ukiran di atap depan gereja

Di dalam Gereja Santo Marco inilah, jasad Markus masih disimpan, tepatnya di ruangan bawah. Perlu diketahui bahwa sudah menjadi typical bangunan di Eropa, bahwa setiap bangunan harus punya ruang ke bawah, jadi tidak sama dengan konsep bangunan di Indonesia, yang rata-rata tidak ada ruangan  bagian bawah level tanah. Maka saya tidak akan menyebutkan ruangan tersebut ruangan bawah tanah, karena kuatir imaginasi pembaca jadi berbeda. Ruangan tersebut besar dan sama seperti ruangan biasa yang bebas dimasuki dan diakses oleh manusia.

Sayang ruangan penyimpanan jasad Markus tersebut, hanya beberapa kali saja dibuka untuk turis dalam setahun, dan saat kami ke sana pada hari Selasa, tanggal 14 April 2009, ruangan tersebut tidak dibuka untuk umum. Namun turis bebas memasuki seluruh ruangan lain dari gereja tersebut, tanpa dipungut biaya, turis bebas melihat-lihat di dalam gereja tersebut, diperlukan waktu lebih dari 2 jam untuk dapat melihat seluruh isi dan kemegahan bangunan itu.

Lukisan lain di bagian atap gereja

Lukisan lain di bagian atap gereja

Bangunannya sangat besar dan pilar-pilarnya kokoh sekali, lantainya terbuat dari murble…seperti antara keramik dan bahan kelereng batu. Lantainya sangat indah, ukuran ubinnya besar-besar dan banyak corak bunga-bunga berbentuk sederhana dengan sudut-sudutnya yang menambah keindahan keramik murble tersebut…Dan keramik-keramik tersebut sudah tidak rata lagi, karena beratus-ratus tahun sudah mengalami unleveling, bergelombang, namun tidak ada yang pecah, semakin menambah kandungan sejarah yang tinggi pada bangunan gereja tersebut. Di langit-langit, yang berupa kubah setengah bola, banyak sekali lukisan-lukisan yang sangat indah, semua kisah Alkitab dimuat di sana, mulai dari proses penciptaan, kejatuhan manusia ke dalam dosa, hingga masa Yesus dan “pencurian” jasad Markus dari Alexandria, semuanya dilukiskan di sana.

Pada bagian-bagian tertentu, tidak dibuka untuk turis secara gratis, tapi harus bayar sebesar 3 euro untuk melihat peninggalan gereja katolik dari sekitar abad ke-5, mulai dari bentuk cawan, teko, tongkat, dsb. Hingga yang paling mencengangkan adalah di dalam museum kecil itu  di sana juga dipajang tengkorak dan tulang kaki St.Peter dari abad ke-9, namun dikacakan, sehingga tidak bisa disentuh oleh pengunjung.

Santo Marco Basilica, Venezia

Santo Marco Basilica, Venezia

Juga pada ruangan bawah lainnya, bisa ditemukan persemayaman orang-orang suci dari gereja tersebut, nampaknya memang orang-orang kudus gereja Katolik bila sudah meninggal akan disemayamkan jasadnya di sana, atau katakanlah di dalam gereja Katolik, karena bisa saja ada masalah keterbatasan tempat.

Dan itu semua bisa disaksikan oleh pengunjung, yang jelas kita tidak ada merasakan risih atau merasa angker akan hal tersebut, dulu sebelum ke sana, mendengar cerita dari orang ke orang, bayangan saya adalah bahwa gereja Katolik ada ruangan bawah tanahnya yang merupakan kuburan…tentu imaginasi tersebut bisa membuat bayangan tersendiri, bahkan cenderung negatif terhadap gereja Katolik, namun setelah melihat langsung ternyata tidaklah seperti yang dibayangkan, turis mancanegara berjibun mengantre untuk bisa masuk ke dalam gereja tersebut, tiap hari tidak pernah sepi…

 

Karena memang selain  gereja tersebut yang merupakan “roh” dari Venezia, namun juga keindahan lagoon Venezia tersebut sungguh luar biasa, mungkin tidak ada area turis seperti itu di belahan dunia yang lain seunik Venezia. Venezia ini adalah kota bersejarah yang tidak lepas dari sejarah Katolik Roma, selain Roma, maka Venezia ini juga tidak kalah pentingnya..

St.Marco Basilica dilihat dari water taxi

St.Marco Basilica dilihat dari water taxi

Venezia itu disebut juga lagoon, karena dianggap seperti danau pesisir, padahal adanya di laut. Dipisahkan oleh sebuah teluk yang memisahkannya dengan Italia daratan, dan mengakses Venezia hanya melalui kereta api dari daratan Italia daratan..

Dan di Venezia sendiri, tidak ada kenderaan mobil, moda transportasi adalah kapal mesin atau speed boat…Ada kanal besar (grande canale, grande = besar) yang berupa huruf S, dari Stasiun Kereta Api Venezia St.Lucia, kita akan menumpang kapal mesin berpenumpang lebih dari 100 orang yang jumlahnya sangat banyak, datang bergiliran, dan stop pada titik yang banyak seperti halnya bis umum, ya wajar saja karena untuk mengangkut ribuan turis tentu butuh kapal yang banyak sebagai pengganti bis. Mereka sebut juga di sana namanya taxi air (water taxi). Lalu melalui grande canale, kita akan melihat bangunan-bangunan tua yang langsung pondasinya di bawah air, sepanjang kanal kita akan melihat kanal-kanal kecil yang hanya bisa dilalui oleh perahu dayung tradisional Venezia yang disebut Gondole. Pria tegap berseragam dan bertopi khas Venezia dan mengikat kepala, pria macho dan kuat akan mengayuh Gondole kalau Anda pesan, harganya bisa mencapai 15 Euro per trip per Gondole, satu Gondole bisa muat 2-4 orang, cocok untuk suami istri yang ingin mengenang masa kasmaran. Lalu perahu dikayuh menyusuri kanal-kanal kecil tersebut, hanya ada suara gemericik air karena kayuhan dan kiri kanan ada bangunan dan tempat tinggal yang tingginya sedang. Kalau diibaratkan dengan jalan darat maka kanal besar itu adalah jalan utama dan kanal-kanal kecil itu adalah gang-gang, demikianlah seluruh daerah Venezia yang berada di laut itu yang tidak begitu jauh dari Italia daratan itu, bagai jejaring yang mana jejaring tersebut dihubungkan dengan kanal-kanal..dan di dalamnya ada kanal besar berupa huruf S.

 

Grande Canale Venezia

Grande Canale Venezia

Namun berhati-hatilah dompet Anda kalau ke Venezia, bukan karena ada copet, tapi restoran-restoran di sana bagai copet bermartabat, sebab sebutlah satu botol coca cola ukuran botol sedang, harganya bisa  5 Euro, bisa Anda bayangkan kalau makan pizza atau steak…maka lebih baik pelajari dulu tentang harga-harga di sana sebelum berkunjung, namun demikian untuk sekali-sekali tidak mengapa, hitung-hitung biar pernah ngerasain…

Venezia juga menawarkan banyak souvenir cantik, mulai dari hiasan-hiasan yang terbuat dari botol yang dibentuk dengan metode ditiup oleh ahlinya dalam keadaan bahan kaca tersebut dipanaskan pada suhu yang sangat tinggi, lalu sesuai keahlian dan keterampilan si tukang maka jadilah souvenir-souvenir cantik itu…

Gondole

Gondole

T-Shirt, topi kapten kapal Venezia, topeng khas Venezia, sampai pernak-pernik lainnya dan prototype Gondola banyak dijajakan di sana, tinggal ambil sesuai selera, dan jangan lupa bayar tentunya…

Atau kalau mau gagah-gagahan, sekedar tas Versace juga bisa Anda temui di sana…

Kesimpulannya, wisata Rohani ke sana tidaklah rugi, dan juga areal tersebut memang dirancang untuk turis mancanegara, orang berjibun ke sana dari seluruh dunia, kadang saya bertanya dari mana saja orang-orang ini berdatangan, tiap hari apakah serame ini?

Tidak nyesal ke sana, bahkan masih ingin mengulang suatu saat nanti…

Venezia, you are so wonderfull…Thank you God…

PS.

  • Alexandria, dinamakan juga Al Iskandaryah, Mesir.
  • Sebelum mencapai Venezia kami juga melewati Verona dan Vicenza, dari Milan sekitar 3.5 jam naik kereta api. Namun saat itu kami punya base camp di Castiglione delle Stiviere, karena ada rumah kenalan di sana, kami berangkat bersama-sama naik mobil dari Swiss menuju Italia, dan dari base camp naik kereta api selama 1 jam ke Venezia..
Di depan gereja katedral Milan, Italia

Di depan gereja katedral Milan, Italia

ditulis oleh: Alfonco Sinaga

Fastnacht Luzern 21. Februar 2009

Kalau terjadi banjir di Jakarta tiap tahun, maka warga yang kena akan diusir dari rumahnya oleh sang banjir tersebut, dalam hal ini memang manusia tak mampu mengendalikan banjir yang secara rajin sejak dahulu kala menyapa warga Jakarta…bagaimanakah cara menghentikan banjir tersebut ??? Ah…tau ah gelap.

Namun orang Swiss, berbeda pula caranya mengusir musim dingin yang memang dingin-padahal tanpa diusir pun musim dingin akan berlalu-, mereka melakukan tradisi turun temurun yang konon katanya adalah tradisi dari warga gereja, namun sekarang berkembang menjadi tradisi warga Swiss di tiap-tiap kota. Namanya mereka sebut Fastnacht. Tiap tahun menjelang musim dingin berakhir, maka pawai dan pertunjukan musik baik di tempat terbuka ataupun dalam ruangan akan marak digelar dari berbagai grup band musik yang puluhan jumlahnya. Mereka meniup trompet dan menabuh drum, sembari mengenakan kostum yang nyentrik dan norak, serta kadang menyeramkan.

Fastnacht Luzern_trompetnya besar-besar amat...

Fastnacht Luzern_trompetnya besar-besar amat...Gerald mengatakan tompret bukan trompet...namanya anak-anak

Untuk mencapai tempat ini, kami butuh waktu 1 jam sejak berangkat dari Oberentfelden, dan ganti kereta di Zofingen, kemudian ke Luzern. Kali ini kami sekeluarga pergi bersama keluarga teman kerja saya asal Uzbekistan, namanya U.Ibragimov dan istrinya. Mereka baru pertama kali ke Luzern, sementara kami sudah bolak-balik, maklum karena Luzern adalah kota wisata paling strategis dan tidak terlalu mahal, bila dibandingkan dengan naik ke gunung dengan transportasi khusus yang bayarannya juga khusus.

Sebelum lihat konsert musik, kasih makan burung danau dulu ahhh...

Sebelum lihat konsert musik, kasih makan burung danau dulu ahhh...

Gulya, istrinya teman saya, memang dari rumah pun sudah membawa roti tawar ukuran besar untuk diberikan kepada angsa-angsa dan burung-burung yang ada di danau Luzern. Lalu saya ajak mereka ke sisi danau yang sedang sepi angsa dan burung-burung tsb…tapi mereka sempat kurang setuju, barulan setelah sampai di sana, dan mulai rotinya ditaburkan ke danau, dengan waktu sekejab angsa-angsa dan burung-burung berdatangan seperti ingin mengerumuni kami, sungguh luar biasa pemandangan itu, sebuah persahabatan dengan ciptaan Tuhan lainnya. Kami sangat senang, anak kami Gerald juga sangat senang, tuh seperti photo di atas.

Masih menyisakan roti separoh lagi, kami segera bergegas menuju keramaian suara musik yang terdengar sayup-sayup di kejauhan, dan benar saja, di sana live musik sudah digelar dimana-mana. Sebuah Sabtu yang tidak terlalu cerah, tapi kehangatan musik itu sudah mengalahkan cuaca dingin yang mengharuskan kami harus memakai jaket tebal dan sarung tangan. Untunglah tidak turun salju, jadi musik bisa kami nikmati dari satu tempat ke tempat lainnya dari grup satu ke grup lainnya. Dan itu semua tanpa bayar lho, alias gratis.

Kostum Fastnact kali ini lebih "colourfull" dibandingkan tahun lalu

Kostum Fastnact kali ini lebih "colourfull" dibandingkan tahun lalu

Ya, ada perbedaan mencolok fastnacht kali ini dengan tahun lalu, yaitu kostumnya lebih warna-warni kali ini, kalau tahun lalu, kesannya gelap dan lebih seram, sekarang memang topeng-topeng mereka masih seram tapi kostumnya lebih gaul nampaknya. Namun anak-anak tidak sampai ketakutan, malah anak-anak senang banyak anak-anak yang ikut-ikutan membawa gendang mainan serta memakai kostum yang nyentrik, kadang dengan wajah dicat seperti muka harimau…hiiiii…

Lihat topengnya...

Lihat topengnya...

Lagi pawai

Lagi pawai

Kurang lebih kami 3 jam di sana, tidak terasa, namun udara dingin semakin terasa, kami pun sempatkan untuk melewati jembatan kayu yang khas di Luzern maklum kami sekaligus menemani teman kami yang baru pertama kali ke sana. Sebelum akhirnya kami pulang ke Oberentfelden.

Mereka melantunkan musik "I will follow Him"

Mereka melantunkan musik "I will follow Him"

Sampai jumpa pada Fastnacht tahun depan.

Note : Jadwal fastnacht tidak selalu sama di semua tempat, beda kota beda pula tanggalnya.

Ditulis oleh : Alfonco Sinaga

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.